Kabar Daerah

Ketua PCNU Ketapang: Banser Harus Sami'na Wa Atho'na kepada Pimpinan Ansor

Ketua PCNU Ketapang: Banser Harus Sami'na Wa Atho'na kepada Pimpinan Ansor
Ketua PCNU Kabupaten Ketapang Drs. H. Satuki Huddin, M.Si memberikan sambutan di pembukaan DTD PAC Sungai Melayu Rayak. Foto: Dok.

ANSOR NEWS, KETAPANG – Ketua Tanfidziah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Ketapang Drs. H. Satuki Huddin, M.Si. menyambut baik terselenggaranya kegiatan DTD (Diklat Terpadu Dasar) Ansor dan Diklatsar (Pendidikan dan Latihan Dasar) Barisan Ansor Serba Guna (Banser) dan Detasemen Wanita Serbaguna (Denwatser).

"Di saat Ansor dan Banser mendapat cacian dan makian bahkan fitnahan, bersamaan itu pula semakin banyak yang berminat masuk di organisasi Banom NU ini. Saya yakin, bahwa kalian masuk di Banser ini tidak ada yang memaksa dan kalian juga tidak merasa terpaksa," tandas Kiai Satuki, dalam sambutannya di acara pembukaan DTD dan Diklatsar, Jumat (11/9/2020).

Ikut serta Wakil Rais Syuriyah KH. Abdullah Al-Faqir, SE, Ust. H. Muhammad Zulkarnain, S.Ag. dan Wakil Ketua H. M. Syafi'ie Huddin, S.Ag. Hadir pula Wakil Ketua PW GP Ansor Kalimantan Barat Suryadi dan empat orang pelatih dari wilayah.

Menurut dia, Banser adalah sebagai kader inti Ansor. Oleh karena itu, ketika menjadi Banser, maka secara otomatis dia juga sebagai Ansor. Tetapi tidak demikian dengan Ansor, menjadi pengurus Ansor belum tentu menjadi Banser.

Banser sebagai kader inti Ansor, lanjutnya, harus memiliki kualifikasi tertentu, di samping disiplin, dedikasi yang tinggi, punya ketangguhan, tahan banting, juga siap mengawal para ulama kita.

"Suatu kemuliaan yang luar biasa tugas itu, karena ulama adalah warisan para nabi. Maka ketika kita mengawal ulama maka sama halnya kita menjaga warisan para nabi," jelasnya.

Kepada narasumber dan pelatih, Satuki minta agar dalam penyampaian materi, wajib disampaikan tentang Peraturan Organisasi (PO), Peraturan Dasar (PD) dan Peraturan Rumah Tangga (PRT) Ansor, agar jelas hubungan serta tugas dan fungsi Banser, hingga tidak ada dualisme kepemimpinan di Ansor.

Kata dia, Banser adalah tentaranya Ansor, dan Banser adalah kader militansi Ansor, karena itu Banser harus sami'na wa atho'na kepada pimpinan Ansor. Pun demikian, Ansor kepada pengurus NU dan ulamanya, juga harus bersikap yang sama.

"Ketika kita berkhidmat kepada NU, maka insyaallah kita akan tergolong kepada santrinya Mbah Hasyim Asy'ari. Banser harus menjadi pengawal ulama dan penjaga NKRI, jangan biarkan bangsa ini tercabik-cabik," ungkap Kiai Satuki.

Sebelum mengakhiri sambutannya, Kiai Satuki mengingatkan, tidak lama lagi daerah Ketapang akan menyelenggarakan Pemilukada. Ia berharap Ansor dan Banser bisa mengawal pesta demokrasi itu agar berjalan lancar dan sukses. Jika ada yang membawa isu agama untuk kepentingan tertentu, ujarnya, maka Ansor dan Banser bisa mengantisipasi sedini mungkin agar jangan sampai memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa, khususnya masyarakat Kabupaten Ketapang.

"Kita bersama-sama mengawal Pemilukada ini agar berjalan dengan aman, lancar, sukses dan demokratis. Semoga akan lahir pemimpin-pemimpin yang terbaik, yang berkualitas, yang mampu menuju ke arah yang lebih baik untuk Kabupaten yang kita cintai ini," pintanya.

Kegiatan DTD dan Diklatsar diadakan di bawah kendali dan pengawasaan Pimpinan Cabang (PC) GP Ansor Kabupaten Ketapang. Diikuti sebanyak 40 peserta, terdiri 33 orang calon anggota Banser dan 7 orang calon Denwatser, yang berasal dari beberapa kecamatan di Kabupaten Ketapang.

Acara berlangsung dari Jumat-Minggu (11-13/9/2020) bertempat di Pondok Pesantren Hidayatullah Muhajirin Sungai Melayu Rayak.

Acara pembukaan dihadiri juga Musytasyar PCNU Ketapang H. Farhan, SE, M.Si, Camat Sungai Melayu Rayak, Polsek, Kepala Desa Melayu Baru dan Ketua Pengurus Majelis Wakil Cabang (MWC) Nahdlatul Ulama (NU) Kecamatan Sungai Melayu Rayak berserta jajaran. (anuk/zah)