Kabar Nasional

Wujudkan Ketahanan Pangan, Gus Yaqut Ingatkan 'Dawuh' Mbah Hasyim

Wujudkan Ketahanan Pangan, Gus Yaqut Ingatkan 'Dawuh' Mbah Hasyim
Para narasumber dan peserta webinar 'Daulat Petani, Daulat NKRI'. Foto: Ist.

ANSOR NEWS, ANSOR NEWS, JAKARTA - Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari atau Mbah Hasyim pernah dawuh atau mengingatkan enam poin solusi agar dunia menemukan ketertibannya. Yakni, agama yang ditaati, pemerintah yang berkeputusan desesif, keadilan merata, ketentraman yang meluas, kesuburan tanah yang kekal, dan cita-cita luhur.

Demikian disampaikan Ketua Umum PP GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas dalam webinar 'Daulat Petani, Daulat NKRI', yang digelar Pimpinan Pusat GP Ansor, Jumat (26/6/2020).

"Saya pikir, poin kelima kesuburan tanah yang kekal erat kaitannya dengan pertanian dan petani itu sendiri," kata Gus Yaqut.

Oleh sebab itu, lanjutnya, sejak awal diumumkan pandemi Covid-19 oleh Presiden Joko Widodo, GP Ansor menjadi satu-satunya pihak yang mengingatkan bahaya darurat ketahanan pangan.

"Kalau tidak salah sejak awal Maret, kita sudah ingatkan pemerintah supaya memperhatikan ketersediaan pangan, dalam menghadapi pandemi. Karena kita sudah prediksi, akan ada ketidaknormalan, termasuk soal pangan," katanya lagi.

"Kami menekankan agar pemerintah memerhatikan dawuh Mbah Hasyim. Jangan sampai soal pangan ini jadi masalah serius. Jelas sekali dawuhnya, bahwa 'petani adalah penolong negeri'. Kita punya banyak pakar, juga sahabat-sahabat seantero nusantara yang sudah bergerak soal ketahanan dan pertanian dalam kapasitas masing-masing," imbuhnya.

Webinar yang dipandu Ketua PP GP Ansor Bidang Pertanian, Kedaulatan Pangan, Kelautan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa H Hadi M Musa Said itu diikuti pimpinan wilayah GP Ansor dan Banser di seluruh Indonesia, serta para kader NU. Adapun narasumber yang hadir Kepala Badan Karantina Pertanian, Kementerian Pertanian RI Ali Jamil; anggota DPR RI Komisi IV Luluk Nurhamidah; Direktur Jenderal Desa, Kementerian Desa Taufik Majid; Direktur Utama PT Pertani Maryono; CSR Astra Ida Sigalingging; pakar pertanian Tjuk Eko Hari Basuki; dan santri pengusaha aquaponik/hidroponik Fathullah.

Kepala Badan Karantina Pertanian, Kementerian Pertanian RI Ali Jamil dalam paparannya memberi informasi bagaimana kebijakan pemerintah sepanjang 2020. Selebihnya, sesuai tema, kata Ali Jamil, justru menarik bagaimana fokus meningkatkan ekspor pangan yang dipelopori kaum milenial dengan GP Ansor sebagai pelopor.

Sementara Komisi IV DPR RI, Luluk Nurhamidah memberi sejumlah catatan soal petani dan ketahanan pangan. Krisis, ujarnya, memang sudah diprediksi Food and Agriculture Organization (FAO) akibat pandemi. Dan ini dialami oleh masyarakat dan negara-negara di dunia (global).

"Kalau saya, sebenarnya krisis pangan di Indonesia itu memang sudah jadi ancaman, ada atau tidaknya pandemi. Terutama jika kita bicara ketersediaan pangan. Salah satu penyebabnya adalah sentra pertanian nusantara yang tidak merata," ungkap Luluk.

Dia juga mendorong bagaimana agar produk lokal masing-masing daerah ikut menjadi indikator atau bahkan didorong menjadi komponen ketahanan pangan. Misalnya di Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jawa Timur, indikatornya adalah beras. Jika ada produksi turun berarti ada masalah. Tapi ukuran tersebut jangan dipakai di NTT.

"Kalau di NTT ya jangan tanya beras. Kalau di-blowup ya beras langka di NTT. Tapi coba tanya ketersediaan sagu misalnya. Jadi, produk pangan lokal ini harus didorong jadi komponen ketahanan pangan," pintanya.

Disinggung juga permasalahan sarpras yang sudah begitu parah. "Mau tidak mau, sarpras pertanian ini masalah yang kita hadapi. Misal saja, ada irigasi yang sudah 54 tahun tidak pernah diurus," kata Luluk mengingatkan soal sarpras.

Di akhir para narasumber sepakat, GP Ansor sebagai organisasi pemuda yang memiliki anggota di seluruh penjuru pelosok tanah air, sudah semestinya ikut terlibat mengambil peran dalam program pembangunan pertanian yang berkedaulatan.

Pemulihan ekonomi pasca pandemi di negara agraris seperti Indonesia, yang menggantungkan pada sektor pertanian adalah momentum besar memulai membangun ekonomi negara dengan menjadikan pertanian dengan petani yang berdaulat sebagai soko guru penopang perekonomian negara yang berdaulat. (jit)